Senin, 18 Juli 2022

Kemuliaan Bagi Para Penjaga Sunnah

Dahulu, penduduk bashrah lebih mengutamakan Muslim bin Yasar daripada Al Hasan Al Bashri.

Namun akhirnya, Al Hasan Al Bashri lebih dihormati daripada pada Muslim bin Yasar. Bi'idznillah Ta'ala.


Ceritanya begini..

Tahu Ibnul Asy'ats?
Ya, dia adalah seorang jenderal perang yang diutus untuk memerangi orang-orang kafir.

Namun, ketika ada ketersinggungan antara dia dan Al Hajjaj bin Yusuf sang gubernur Bashrah, bukannya meneruskan perjuangan melawan orang kafir, namun justru membelot dan berbalik arah memerangi penguasa muslim yang dia pandang tidak pantas untuk memimpin.

Ketika terjadi pemberontakan yang di lakukan oleh Ibnul Asy'ats, pasukannya menyarankan agar memaksa para ulama untuk ikut berperang bersamanya. Supaya masyarakat yang lain juga ikut memberontak.

Diantara ulama yang direkrut untuk ikut mengkudeta adalah Muslim bin Yasar dan Al Hasan Al Bashri.

Muslim bin Yasar pun hanyut terbawa arus fitnah.

Namun Al Hasan Al Bashri tetap berpegang teguh dengan prinsip Ahlus Sunnah, bahwa tidak boleh memberontak pemerintah yang masih muslim, walaupun zalim.

Meskipun sudah dibawa bersama pasukan pembelot, namun beliau berhasil melarikan diri dan lolos dari pengawasan pasukan.

Ketika pasukan lengah, beliau menyeburkan diri ke sungai yang amat dalam dan deras, "BYUR."
Dan hampir saja beliau mati tenggelam.

Pasukan Ibnul Asy'ats pun gagal menangkap Al Hasan Al Bashri.
Kemudian mereka tetap melanjutkan misi jahatnya. Dan akhirnya, mereka kalah dalam usaha pemberontakannya. Justru yang menang adalah Al Hajjaj  bin Yusuf yang terkenal zalim.

Setelah peperangan usai, Al Hajjaj memanggil satu-persatu orang yang tidak ikut dalam barisannya, untuk kemudian di penggal lehernya. "DAS DES!".
NGERI!!

Nah, ketika giliran Imam Al Hasan Al Bashri yang dipanggil dan dibawa oleh pasukan Al Hajjaj, beliau pun memenuhi panggilan itu dan tidak takut sama sekali. Karena beliau yakin, bahwa Allah akan menolong orang yang memegang teguh sunnah nabi-Nya.

Ketika sampai di hadapan Al Hajjaj, Imam Al Hasan melihat muka sang penguasa zalim ini begitu murka dan merah padam bak bara api yang menyala-nyala.

Namun, imam Al Hasan tetap kokoh dan yakin dengan pertolongan Allah, sembari beliau mengucapkan doa, "Ya Allah, Dzat Yang menjadikan dingin api yang hendak membakar nabi Ibrohim, padamkan dan dinginkanlah kemarahan Al Hajjaj bin Yusuf."

Masya Allah..

Al Hajjaj yang tadinya geram dan berambisi untuk membunuh Imam Al Hasan, seketika itu pula luluh dan menyambut hangat kedatangan beliau. Dan Akhirnya, beliau dimuliakan dan dipersilahkan untuk duduk di samping Al Hajjaj.

Dan orang-orang pun menaruh rasa segan terhadap beliau.


Sungguh benar petuah ulama:

فَعَلَيْكَ بِلُزُومِ السُّنَّةِ، فَإِنَّها لَكَ بِإِذْنِ اللهِ عِصْمَة

"Wajib atasmu untuk berpegang teguh dengan As Sunnah. Karena dengan itu, engkau akan mendapatkan penjagaan, bi'idznillah."

-Disebutkan dalam Sunan Abi Dawud, Bab: Luzum As Sunnah. Penjelasan lebih rinci bisa dilihat pada kitab Fat-hur Rahimil Wadud Karya Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi-

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar