Mengenai Saya

Foto saya
Sragen, Jawa Tengah, Indonesia
Kami adalah produsen gamis akhwat dan jilbab cadar safar. 0857-2544-5132

Hukum Meriwayatkan dari Ahli Bid’ah

💎🔶Rubrik : Manhaj

Hukum Meriwayatkan dari Ahli Bid’ah

Menurut para peniliti hadist dari kalangan Ahlul Ilmi, Ahlul Hadist wal Atsar adalah bolehnya meriwayatkan dari ahlul bid’ah yang terjatuh ke dalam bid’ah mufassiqah dengan dua syarat:

1. Bukan seseorang yang menyeru kepada bid’ah yang ia terjatuh ke dalamnya.

2. Tidak meriwayatkan hadsit yang menjurus kepada bid’ahnya.

Ini adalah pendapat yang paling adil dalam masalah ini, bertentangan dengan orang yang melarang dari periwayatan ahlul bid’ah secara mutlak, juga dengan orang yang membolehkannya secara mutlak.

Berkata al-Hafidz al-Marwadzi dalam kitab al-‘Ilal wa Ma’rifatu ar-Rijal li Ahmad (1/32): “Aku bertanya kepada Imam Ahmad tentang keadaan riwayat Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Ruwad bagaimana ia?”. Beliau menjawab: “Dia adalah seorang Murjiah, aku telah menulis riwayat darinya, mereka mengatakan bahwa ia telah dirusak pemahamannya oleh ayahnya, dan mempunyai banyak riwayat dari Sufyan bin Uyainah.”

Berkata al-Marwadzi: “Abu Abdillah (Imam Ahmad) meriwayatkan dari seorang murjiah jika perawi tersebut tidak menyeru kepada kebid’ahan atau memerangi sunnah.”

Berkata al-Imam Ahmad dalam kitab al-Ilal wa Ma’rifatu Rijal (2/165): “Telah berkata kepadaku Ibnu Kholad”, ia berkata: ‘Aku telah mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata: ‘Tiga golongan yang tidak diterima riwayatnya: orang yang tertuduh sebagai pendusta, orang yang lemah dan banyak salah meriwayatkan, dan pengekor hawa nafsu yang menyeru kepada kebid’ahannya’”.

Berkata al-Hafidz adz-Dzahabi dalam kitab Mizan al-I’tidal (3/275): “Seseorang bertanya kepada Ibnu al-Mubarak: ‘Mengapa anda meriwayatkan dari Sa’id dan Hisyam ad-Dustuwai, dan meninggalkan riwayat Amru bin ‘Ubaid, sedangkan mereka semua satu pemikiran (Mu’tazilah)?’ beliau menjawab: ‘Amru bin Ubaid menyeru kepada pemikirannya, dan menampakkan dakwahnya, adapun keduanya diam’”.

Kemudian beliau berkata juga dalam kitab Mizan al-I’tidal (3/277): “Berkata Yahya bin Ma’in: ‘Ditinggalkan hadist orang yang menyeru kepada kebid’ahannya’”.

Berkata pula al-Hafidz Ibnu Hibban dalam Kitab ats-Tsiqaat (6/140): “Tidak ada perselisihan di antara para Imam kami dari kalangan Ahli Hadist, bahwa orang yang jujur dan baik hafalannya, jika dia memiliki kebid’ahan dan tidak menyeru kepada kebid’ahannya, menerima riwayatnya adalah boleh, namun apabila ia menyeru kepada kebid’ahannya maka jatuhlah riwayatnya, oleh sebab inilah mereka (para Ahli Hadist) meninggalkan hadist dari orang-orang yang menyatakan kebid’ahannya serta menyeru kepadanya, walaupun dia adalah orang yang terpercaya”.

 

Ditulis oleh:
asy-Syaikh Badr bin Muhammad bin Badr al-‘Anazi –hafidzahullah-,

📆16/11/1436 H.

Link http://albader1.com/?p=797

Alih Bahasa:  Abu Kuraib

🌎 Salafy Lintas Negara ✈

Https://Telegram.me/salafylintasnegara

0 Response to "Hukum Meriwayatkan dari Ahli Bid’ah"

Posting Komentar

Tokopeci Salimah Gallery

Salimah Gallery Distributor Busana Muslim, Madu Herbal di kota Solo